close
1522510_760994540578035_1693069998_o

“Budi, jangan jadi guru, guru itu berat, kamu tidak akan kuat. Biar Pak Menteri saja yang jadi guru”

Sengaja saya membuka catatan ini dengan penggalan percakapan yang lagi nge-hit saat ini (maaf sedikit saya plesetkan) supaya tulisan ini menegaskan bahwa peristiwa yang saya ceritakan baru saja terjadi.

Ada pekerjaan rumah yang berat bagi seluruh umat negeri ini. Dunia sekarang sudah absurd, di luar nalar dan sulit dilogika. “ora nutut akale gawe mikirne”. Baru saja semua orang dikejutkan berita miris “guru meninggal di tangan siswa”. Innalillahi wainna ilaibi rojiun, semoga khusnul khotimah, Amiin. Dialah pak Budi, guru honorer, lulusan Universitas Negeri Malang, sosoknya terkenal kalem dan berbakat.

 

“Kok iso” Dalam dunia pendidikan, seharusnya tidak terjadi peristiwa memilukan seperti yang dialami oleh pak Budi. Kenyataanya, baru kemarin masyarakat dikagetkan dengan ke-absurd-tan ini. Konyol! Gejala tidak masuk akal ini terjadi di sekolah dan menjalar dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin sekarang ini tidak hanya politik saja yang tidak masuk akal, tetapi mendidik juga menjadi ancaman.

“Pak Budi, walau ini pilihanmu, namun menjadi guru itu berat”.

Berat beban yang ditanggung seorang guru. Bahkan ancamannya kematian. Mungkin ini hanya kasus, tapi ini sudah kesekian kalinya. Tidak cukup guru di penjara, bila perlu dibunuh saja kalau berani macam-macam dengan muridnya.
Inilah potret generasi hari ini, generasi stoberi yang cantik dan menarik buahnya, tapi kecut dan mudah busuk dalamnya. Generasi yang dikelilingi tehnologi serba canggih. Seperti halnya smartphone yang sudah sangat dekat dengan siapa saja. Benda ajaib sekaligus momok bagi penggunanya yang tidak smart “alias digobloki karo hpne dewe”.
Almarhum Pak Budi, guru senirupa yang meninggal di tangan muridnya adalah salah satu guru yang menghadapi tantangan jaman serba unik ini. Bahwa menjadi guru adalah panggilan sekaligus jalan menuju kematian.

Baca Juga:  Kisah Nabi Ibrahim (Bagian ke-10): Do’a Nabi Ibrahim Ketika Dilemparkan ke dalam Api

Istilah guru memiliki makna “gu” berarti kegelapan dan “ru” artinya menghancurkan, maka tugas seorang guru adalah “menghancurkan kegelapan” dan menggantikannya menjadi “sinar yang lebih terang”. Maka tugas seorang guru adalah memperbaiki segala bentuk/prilaku yg menyimpang dan diganti dengan yang lebih baik.

Pak Budi, sampean khusnul khotimah. Anda pahlawan yang tidak sadar sudah berhadapan dengan musuh yang kejam. Anda selama ini sudah bergumul dengan seorang murid yang gelap, dan buruk. Sampean sudah menghadapinya dan menjadi pahlawan untuk mengubahnya menjadi terang dan lebih baik, namun sampean gugur dan sahid di tengah-tengah aksi peperangan melawan keburukan. Allahuakbar!

Tulisan ini merupakan tulisan dari alumni Fakultas Sastra UM dan sekaligus dosen yaitu Bpk. Leo (Tani Maju)

OBITUARI GURU BUDI 1

karya Prof Djoko Saryono

Maut itu mengetuk pintu
di pusat batang otakmu
diantar tangan hampa muridmu
yang terlepas dari suara kalbu
lalu gelap tiba sebelum senja
di pelupuk mata
berganti sepasukan cahaya
menuntun ruhmu ke negeri baka

(orang-orang berseru
kutuk serapah deru-menderu
bara kesal memenuhi udara
nyala simpati menerangi dunia
si murid menggigil sebatangkara
di pojok sejarah pendidikan
kelam riwayatnya tertuliskan)

“maafkan aku, guru
aku benar-benar nanar
disandera zaman barbar
aku yatim piatu adab luhur
dalam hidupku terlihat kabur
aku tak punya jiwa merdeka
hanya raga tercurahi asing kata
ayah ibu senang mengurus dunia
orang ramai pandai sibuk memaksa
aku kehilangan makna hidup
menjadi tubuh dicincang ribut”

(angin semesta terdiam di sarangnya
keheningan menegaskan doa-doa)

“selembut gesekan biolaku
semerdu suara yang lahir dari situ
tentu aku memaafkanmu, muridku
aku selalu mengasihimu, muridku
bukankah aku guru gemilang?
pembawa tepercaya obor terang
agar kegelapan jiwa menghilang
meski cuma dihargai tak seberapa
meski harus pulang di usia muda”

Tags : Ahmad Budi CahyantoBerita HMIHMI NewsInspirasiKader BerbagiKomsasKomsas UMPak Budi memilih jadi guru dan khusnul khotimah
Komsas

The author Komsas

Merupakan Komisariat HMI tertua di Kota Malang dan Komisariat pertama sebelum adanya HMI Cabang Malang. Komisariat yang terlahir dari Kampus Universitas Negeri Malang yang dulunya di kenal dengan IKIP Malang.