close
Kader Berbagike-Islaman

Kisah Nabi Ibrahim (Bagian ke-4): Perdebatan Nabi Ibrahim dengan Kaumnya

kisah-nabi-ibrahim

Allah SWT berfirman,

“Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, ‘Aku tidak suka kepada yang terbenam.’ Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, ‘Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.’

Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, ‘Inilah Tuhanku, ini lebih besar.’ Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.’ Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Dan kaumnya membantahnya.

Dia (Ibrahim) berkata, ‘Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali Tuhanku mengehendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran? Bagaimana aku takut dengan apa yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Manakah dari kedua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?’

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk. Dan itulah keterangan Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya, Rabbmu Mahabijaksana, Maha Mengetahui’.” (Al-An’am: 75-83).

Kesempatan kali ini merupakan perdebatan Ibrahim dengan kaumnya. Ibrahim menjelaskan kepada mereka, bahwa bintang-bintang terang yang terlihat sama sekali tidak patut dipertuhankan, ataupun disembah bersama Allah ‘Azza wa Jalla. Karena, semua makhluk tersebut yang di atur, diciptakan, dan dikendalikan. Kadang muncul dan kadang terbenam, menghilang dari alam ini. Sementara bagi Rabb Ta’ala, tak ada sesuatu pun yang luput dari penglihatan-Nya, tidak ada yang samar bagi-Nya. Ia kekal abadi, tidak akan menghilang, tiada Tuhan (yang berhak diibadahi dengan sebenarnya) selain-Nya, tiada Tuhan selain-Nya.

Baca Juga:  Sejarah Berdirinya HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) pertama kali di Indonesia

Ibrahim terlebih dulu menjelaskan bahwa bintang tidak patut diyakini seperti itu. Menurut salah satu pendapat, bintang yang disembah adalah bintang Vesper, selanjutnya beralih ke bulan yang sinarnya lebih terang dan lebih indah, berikutnya beralih ke matahari yang paling terlihat besar, dan paling terang. Ibrahim menjelaskan, semua itu adalah makhluk yang di atur, diperjalankan, ditentukan dan dipelihara, seperti yang Allah firmankan,

“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (Fushshilat: 78).

Karena itu Allah SWT berfirman,

“Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, ‘Inilah Tuhanku, ini lebih besar.’ Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.’ Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Dan kaumnya membantahnya. Dia (Ibrahim) berkata, ‘Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada (malapekata dari) apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?” (Al-An’am: 78-80).

Yaitu, aku tidak mempedulikan tuhan-tuhan yang kalian sembah selain Allah itu, karena semuanya sama sekali tidak bisa mendatangkan manfaat, tidak mendengar ataupun memahami, berhala-berhala itu justru dipelihara dan diatur, sama seperti bintang dan lainnya. Berhala-berhala yang kalian sembah hanyalah buatan dan pahatan.

Secarra lahir, nasihat terkait bintang-bintang ini disampaikan Ibrahim kepada penduduk Haran, karena mereka menyembah bintang. Kisah ini membantah pernyataan kalangan yang menyatakan bahwa Ibrahim mengatakan hal tersebut saat keluar saat keluar dari sebuah terowongan saat ia masih kecilm seperti yang disampaikan Ibnu Ishaq dan lainnya. Kabar ini bersumber dari kisah-kisah israilliyyat yang tidak bisa dipercaya, terlebih jika menyalahi kebenaran.

Baca Juga:  Kisah Nabi Ibrahim (Bagian ke-19): Perintah Khitan kepada Nabi Ibrahim
Tags : Dunia IslamInspirasiKader BerbagiKe-IslamanKisahKisah Nabi IbrahimKomsasKomsas UMNabi IbrahimPerdebatan Nabi Ibrahim dengan Kaumnya
Komsas

The author Komsas

Merupakan Komisariat HMI tertua di Kota Malang dan Komisariat pertama sebelum adanya HMI Cabang Malang. Komisariat yang terlahir dari Kampus Universitas Negeri Malang yang dulunya di kenal dengan IKIP Malang.