close
Kader Berbagike-Islaman

Kisah Nabi Ibrahim (Bagian ke-3): Kisah Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an

kisah-nabi-ibrahim

Allah SWT berfirman,

“Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk, dan Kami telah mengetahui dia.” (Al-Anbiya’: 51). 

Yaitu Ibrahim patut untuk mendapat petunjuk.

Allah SWT berfirman,

“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Sesungguhnya, yang kamu sembah selain Allah hanyalah berhala-berhala, dan kamu membuat kebohongan. Sesungguhnya, apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki dari Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan. Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka sungguh, umat sebelum kamu juga telah mendustakan (para rasul). Dan kewajiban rasul itu hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan jelas.’

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan (makhluk), kemudian Dia mengulanginya (kembali). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Katakanlah, ‘Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia (Allah) mengazab siapa yang Dia kehendaki dan memberi rahmat kepada siapa yang Dia kehendaki, dan hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan.

Dan kamu sama sekali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) baik di bumi maupun di langit dan tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah. Dan orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan-Nya, mereka berputus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu akan mendapat azab yang pedih. Maka tidak ada jawaban kaumnya (Ibrahim), selain mengatakan, ‘Bunuhlah atau bakarlah dia,’ lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang beriman.

Dan dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya, berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah, hanya untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan di dunia, kemudian pada hari kiamat sebagian kamu akan saling mengingkari dan saling mengutuk; dan tempat kembalimu ialah neraka dan sama sekali tidak ada penolong bagimu.’ Maka Luth membenarkan (kenabian Ibrahim). Dan dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya, aku harus berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku; sungguh, Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksan.’ Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub dan Kami jadikan kenabian dan kitab kepada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, termasuk orang yang saleh’.” (Al-Ankabut: 16-27).

Selanjutnya Allah mengisahkan perdebatan Ibrahim dengan ayah dan kaumnya, seperti yang akan kami sebutkan berikutnya.

Ibrahim pertama kali menyampaikan dakwah kepada ayahnya, karena ayah adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkan nasihat tulus. Ayahnya termasuk di antara mereka yang menyembah patung, seperti yang Allah sampaikan dalam firman-Nya,

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur’an), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan, seorang nabi. (Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yag tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Rabb Yang Maha Pengasih. Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Rabb Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.’

Dia (ayahnya) berkata, ‘Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.’ Dia (Ibrahim) berkata, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya, Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku’.” (Maryam: 41-48).

Allah menyebutkan dialog dan perdebatan antara Ibrahim dengan ayahnya. Tentang bagaimana Ibrahim mengajak ayahnya dengan kebenaran dengan tutur kata lembut dan isyarat yang baik. menjelaskan kebatilan paganisme yang dianutnya, berhala-berhala yang sama sekali tidak bisa mendengar orang yang menyembahnya, juga tidak bisa melihat tempat keberadaannya. Benda seperti ini, bagaimana mungkin bisa menolong atau memberikan kebaikan, rezeki ataupun pertolongan? Selanjutnya, Ibrahim mengingatkan ayahnya pada petunjuk dan ilmu yang bermanfaat yang diberikan Allah kepadanya, meski secara usia ia lebih muda.

“Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (Maryam: 43). 

Yaitu jalan lurus, jelas, mudah, yang mengantarkanmu menuju kebaikan dunia dan akhirat.

Namun, karena ayahnya berpaling dari petunjuk dan nasihat yang disampaikan Ibrahim, enggan menerima dan mengamalkannya, bahkan malah mengancamnya, ia berkata,

Baca Juga:  Pacitan - 760 Siswa Ikuti Ujian di Masjid Akibat Banjir Bandang

“Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam,” ada yang menyatakan dengan tutur kata, sedangkan pendapat lain dengan tindakan, “Maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama,” yaitu putuskan hubungan kita dan tinggalkan aku untuk waktu yang lama.

Saat itu Ibrahim berkata pada ayahnya, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu,” yaitu semoga kau tidak tertimpa hal-hal yang tidak diinginkan karena ku. Bahkan Ibrahim menuturkan kata-kata baik lagi, ia berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya, Dia sangat baik kepadaku,” Ibnu Abbas dan lainnya menafsirkan, “Yaitu Mahalembut, yaitu dalam memberiku petunjuk untuk beribadah kepada-Nya beramal dengan ikhlas untuk-Nya semata. Karena itu Ibrahim mengatakan,

“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku’.” (Maryam: 41-48).

Dan benar, Ibrahim memohonkan ampunan untuk ayahnya seperti yang pernah ia janjikan. Namun setelah terbukti dengan jelas bahwa ayahnya adalah musuh Allah, Ibrahim melepaskan diri darinya, seperti yang disampaikan Allah,

“Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya. Maka ketika jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (At-Taubah: 114.)

Imam Bukhari menuturkan, “Isma’il bin Abdullah bercerita kepada kami, saudaraku, Abdul Hamid, bercerita kepadaku, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Sa’id Al-Maqburi, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Ibrahim bertemu ayahnya, Azar pada hari kiamat, pada wajah Azar terdapat asap dan debu, lalu Ibrahim berkata kepadanya, ‘Bukankah aku sudah pernah mengatakan kepadamu, jangan mendurhakaiku?’ ‘Pada hari ini, aku tidak akan mendurhakaimu,’ kata ayahnya. Ibrahim kemudian mengucapkan, ‘Ya Rabb! Sungguh, Kau pernah berjanji padaku untuk tidak menginakanku pada hari semua makhluk dibangkitkan, lalu kehinaan mana yang lebih menghinakan dari ayahku yang paling jauh?’ Allah Ta’ala kemudian berfirman, ‘Sungguh, Aku haramkan surga bagi orang-orang kafir.’ Kemudian dikatakan, ‘Wahai Ibrahim! (Lihatlah) apa yang ada di bawah kedua kakimu!’ Ibrahim melihat, ternyata ada serigala berlumuran kotoran. Kaki-kakinya kemudian diraih lalu dilemparkan ke neraka’.”

Baca Juga:  Kisah Nabi Ibrahim (Bagian ke-4): Perdebatan Nabi Ibrahim dengan Kaumnya

Dalam kitab tafsir, Imam Bukhari menyatakan, “Ibrahim bin Thahman meriwayatkan dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Sa’id Al-Maqburi, dari ayahnya, dari Abu Hurairah.

”[Bukhari, kitab: Para nabi, bab: firman Allah SWT, ‘Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-nya.” (An-Nisa’: 125).]

Demikian pula riwayat An-Nasa’i dari Ahmad bin Hafsh bin Abdullah, dari ayahnya, dari Ibrahim bin Thahman, dengan matan yang sama, Bazzar meriwayatkan hadist ini Hammad bin Salamah, dari Ayyub, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, dengan matan yang hampir sama, namun rangkaian matannya agak aneh. Bazzar juga meriwayatkan hadist ini dari Qatadah, dari Uqbah bin Abdul Ghafir, dari Abu Sa’id, dari Nabi SAW, dengan matan yang sama.

Allah SWT berfirman,

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya Azar, ‘Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya, aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata’.” (Al-An’am: 74).

Ini menunjukkan, nama saya Ibrahim adalah Azar. Namun, menurut mayoritas ahli nasab, di antaranya Ibnu Abbas, menyebut namanya Tarikh, seperti yang disebut Ahli Kitab. Menurut pendapat lain, Azar adalah julukan berhala yang disembah ayah Ibrahim.

Ibnu Jarir menyatakan, “Yang benar, nama ayah Ibrahim adalah Azar. Atau mungkin saja ia memiliki dua nama; salah satunya julukan, sementara satunya lagi nama.”

Pernyataan Ibnu Jarir ini mungkin saja benar. Wallahu a’lam.

Tags : Dunia IslamInspirasiKader BerbagiKe-IslamanKisahKisah Nabi IbrahimKomsasKomsas UMNabi Ibrahim
Komsas

The author Komsas

Merupakan Komisariat HMI tertua di Kota Malang dan Komisariat pertama sebelum adanya HMI Cabang Malang. Komisariat yang terlahir dari Kampus Universitas Negeri Malang yang dulunya di kenal dengan IKIP Malang.